Langsung ke konten utama

Responsive Blog Design

Tahun 2013 ini merupakan tahun bagi "Responsive Blog Design". Sebuah pendekatan desain web yang berfungsi untuk mengoptimalkan pandangan pembaca web dari berbagai segi ukuran perangkat navigasi, baik ponsel, iPad maunpun dekstop.

Responsive blog design akan memudahkan seseorang dalam proses navigasi berbagai konten blog. Cara kerjanya sangat sederhana. Jika Anda membuka sebuah alamat blog yang sesungguhkan memiliki ukuran dasar versi dekstop di ponsel Anda, maka secara otomatis blog tersebut akan menyesuaikan ukuran ponsel Anda.

Blog dengan platform blogger sendiri, memiliki kode CSS da HTML dasar yang akan memudahkan kita dalam mendesain blog menjadi responsive. Meskipun blog responsive dengan platform blogger ini terbilang masih minim, namun ditahun 2013 ini dipastikan akan semakin ramai dan berkembang.

Bagi Anda yang masih bertahan dengan desain lawas atau original versi standar, apakah tertarik untuk mencoba desain blog responsive ini? Silahkan meluangkan sedikit waktu, pikiran dan tenaga untuk kembali mengutak-atik desain blog Anda.

Komentar

  1. Tahun 2013 ini merupakan tahun bagi "Responsive Blog Design". Sebuah pendekatan desain web yang berfungsi untuk mengoptimalkan pandangan pembaca web dari berbagai segi ukuran perangkat navigasi, baik ponsel, iPad maunpun dekstop.

    BalasHapus
  2. Sangat menarik nih pembahasannya, jadi pengen otak atik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mas, semoga sukses. Terimakasih sudah mampir kesini. Salam hangat selalu.

      Hapus
  3. mas herdi, kenapa sudah gak buat template lagi, saya sangat suka dengan responsive-templates buatan mas herdi... katanya dulu akan membuat responsive-templates v.2 :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Demokrasi Indonesia

The Economist Intelligence Unit, baru saja merilis laporan Indeks Demokrasi pada tahun 2020. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke 64 dari 167 negara di dunia, dengan skor indeks demokrasi sebesar 6,30. Indeks demokrasi Indonesia tahun 2020 ini, adalah yang terendah dalam 14 tahun terakhir . Bahkan indeks demokrasi Indonesia tersebut, masih jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya, yakni Malaysia (39), Timor Lester (44), dan Filipina (55) [1] . Berdasarkan skor yang diraih, The Economist Intelligence Unit mengklasifikasikan peringkat negara-negara yang disurvei, ke dalam empat kategori rezim, yakni demokrasi penuh ( full democracies ) , demokrasi cacat ( flawed democracies ) , rezim hibrida ( hybrid regimes ) , dan rezim otoriter ( authoritarian regimes ) . Indonesia sendiri yang berada diperingkat ke 64 dengan skor 6,30, dikualifikasikan sebagai rezim demokrasi cacat [2] . Banyak kalangan yang beranggapan jika pandemi Covid-19 memberikan tekan...

Seri Belajar Menulis, Darimana Kita Harus Memulai?

Belajar menulis bukan perkara yang mudah, demikian kata seorang teman saya. Menulis membutuhkan waktu lebih, sulit mengurai kata perkata, suasana hati yang tidak mood, alat kerja yang tidak ada (komputer, laptop dsb) hingga bahan tulisan yang minim, adalah sejumlah alasan yang membuat sejumlah orang menghindari untuk menulis. Namun menulis merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan jika kita mampu menikmatinya dengan baik.

Pilkada, Pandemi, Dan Pengalaman Negara Lain (2)

Banyak kalangan yang memupuk optimisme pelaksanaan Pilkada dimasa pandemi Covid-19, hanya dengan melihat kisah sukses Korea Selatan dan Polandia. Optimisme boleh, tapi tentu saja harus disertai dengan langkah-langkah strategis yang efektif dan efisien. Sebagai sebuah pengalaman, tentu kisah kedua negara tersebut sah-sah saja. Namun pengalaman itu tidak boleh kita telan mentah-mentah untuk dipraktekkan di Indonesia. Ada beberapa catatan dalam menyaring kisah sukses dikedua negara tersebut, antara lain : Pertama , jumlah partisipan atau pemilih. Berdasarkan data per Juni 2020, jumlah Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang diserahkan Kemendagri kepada KPU, sebanyak 105,852 juta pemilih [1] . Jumlah ini lebih banyak 3 kali lipat dari pemilih terdaftar Pemilu Presiden Polandia, dan 2 kali lipat dari jumlah pemilih saat Pemilu majelis nasional Korea Selatan. Bandingkan dengan pemilih terdaftar di Korea Selatan yang hanya berjumlah 43.994.247, dan di Polandia sebanyak 30,268,543. J...